bani israel mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan

Sejarah Israelbani israel mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan King Salomo ( Nabi Sulaiman ) – The Land of Israel , juga dikenal sebagai Tanah Suci atau Palestina , adalah tempat kelahiran dari orang Yahudi , tempat di mana bentuk akhir dari Alkitab Ibrani diduga telah disusun, dan tempat kelahiran Yudaisme dan Kristen . Ini berisi situs-situs suci bagi Yudaisme , Samaria , Kristen , Islam , Druze dan Iman Baháʼí . Wilayah ini telah berada di bawah kekuasaan berbagai kerajaan dan, sebagai akibatnya, menampung berbagai macam etnis. Namun, tanah itu didominasi oleh orang Yahudi(yang merupakan hasil dari orang Kanaan sebelumnya ) dari sekitar 1.000 tahun sebelum Masehi (BCE) sampai abad ke-3 Masehi (M) . Adopsi agama Kristen oleh Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 menyebabkan mayoritas Kristen Yunani-Romawi yang bertahan tidak hanya sampai abad ke-7 ketika daerah tersebut ditaklukkan oleh Kerajaan Muslim Arab , tetapi selama enam abad penuh lainnya. Secara bertahap menjadi mayoritas Muslim setelah akhir periode Tentara Salib (1099-1291), di mana itu adalah titik fokus konflik antara Kristen dan Islam. Dari abad ke-13 sebagian besar Muslim dengan bahasa Arab sebagai bahasa dominan dan merupakan bagian pertama dari provinsi Suriah Kesultanan Mamluk dan setelah 1516 bagian dari Kekaisaran Ottoman hingga penaklukan Inggris pada tahun 1917-18 .

Sebuah gerakan nasional Yahudi, Zionisme , muncul pada akhir abad ke-19 (sebagian sebagai tanggapan terhadap antisemitisme yang berkembang ), di mana Aliyah (kembalinya Yahudi dari diaspora ) meningkat. Selama Perang Dunia I , pemerintah Inggris secara terbuka berkomitmen untuk menciptakan Rumah Nasional Yahudi dan diberikan Mandat untuk memerintah Palestina oleh Liga Bangsa – Bangsa untuk tujuan ini. Nasionalisme Arab saingan juga mengklaim hak atas bekas wilayah Ottoman dan berusaha untuk mencegah migrasi Yahudi ke Palestina, yang menyebabkan meningkatnya ketegangan Arab-Yahudi .

Kemerdekaan Israel

Kemerdekaan Israel pada tahun 1948 diikuti oleh eksodus orang Arab dari Israel , konflik Arab-Israel dan eksodus Yahudi berikutnya dari negara-negara Arab dan Muslim ke Israel. Sekitar 43% orang Yahudi dunia tinggal di Israel saat ini, komunitas Yahudi terbesar di dunia. Pada tahun 1979, Perjanjian Perdamaian Mesir-Israel yang tidak mudah ditandatangani, berdasarkan Perjanjian Camp David . Pada tahun 1993, Israel menandatangani Kesepakatan Oslo I dengan Organisasi Pembebasan Palestina , diikuti dengan pembentukan Otoritas Nasional Palestina dan pada tahun 1994 perjanjian damai Israel-Yordania ditandatangani. Meskipun ada upaya untuk menyelesaikan perjanjian perdamaian , konflik terus memainkan peran utama dalam kehidupan politik, sosial dan ekonomi Israel dan internasional.

Pada dekade awal, ekonomi Israel sebagian besar dikendalikan oleh negara dan dibentuk oleh ide – ide sosial demokrat . Pada 1970-an dan 1980-an, ekonomi mengalami serangkaian reformasi pasar bebas dan secara bertahap diliberalisasi. Dalam tiga dekade terakhir, ekonomi telah tumbuh pesat, tetapi PDB per kapita telah meningkat lebih cepat daripada kenaikan upah.

Sejarah Bangsa Israel

Bani Israil atau Bani Israel (bahasa Ibrani: בני ישראל Bnei Yisra’el, bahasa Arab: بني إسرائيل ‎, Banī Israīl) adalah persekutuan suku-suku berbahasa Semit pada Zaman Besi dari kawasan Timur Dekat Kuno yang mendiami wilayah Kanaan (Palestina) pada masa kesukuan dan monarki. Naskah-naskah kitab suci menyebutkan bahwa mereka adalah keturunan Israel (nama lain Ya’qub), putra Ishaq, putra Ibrahim (Abraham). Secara bahasa, Bani Israil bermakna “anak keturunan Israel.” Kata ini diambil dari bahasa Arab: بني إسرائيل ‎ Banī Israīl yang merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani: בני ישראל Bnei Yisra’el. Israel sendiri adalah julukan untuk Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Istilah lain dalam bahasa Indonesia yang juga digunakan untuk merujuk pada Bani Israil adalah “kaum Israel”, “bangsa Israel”, “orang Israel”, atau “Israel” saja. Pada masa modern, kata Israel digunakan sebagai nama Negara Israel, sebuah negara bangsa Yahudi di Timur Tengah.

Baca Juga  Dinasti Abbasiyah mengalami kejayaan pada masa pemerintahan

Dalam Tanakh ( kitab suci Yahudi ) dan Alkitab ( kitab suci Kristen ), istilah Israel pertama kali digunakan dalam Kitab Kejadian. Disebutkan bahwa Ya’qub bergelut dengan lelaki asing. Setelahnya lelaki tersebut berkata, “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” Setelah lelaki itu pergi, barulah Ya’qub sadar bahwa dia adalah malaikat. Nama Israel pertama kali muncul dalam sumber non-kitab suci sekitar 1209 SM, dalam sebuah prasasti Fir’aun Merneptah. Prasasti itu sangat singkat dan mengatakan secara sederhana, “Israel terbuang dan keturunannya tidak”. Prasasti ini mengacu pada kaum, bukan untuk individu atau negara-bangsa.

Ya’qub memiliki dua belas putra: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Yusuf, dan Benyamin. Keturunan mereka kemudian menjadi dua belas suku dalam Bani Israil. Keturunan Yusuf biasanya dibagi menjadi dua: suku Manasye yang merupakan keturunan putra sulung Yusuf dan suku Efraim yang merupakan keturunan putra kedua Yusuf. Bani Israil adalah sebutan untuk keturunan Ya’qub. Ya’qub sendiri adalah putra Ishaq, putra Ibrahim. Dari empat istrinya, Ya’qub memiliki dua belas putra dan mereka tinggal di Palestina. Bani Israil nantinya dibagi menjadi dua belas suku berdasarkan keturunan dua belas putra Ya’qub. Putra kesebelas, Yusuf, tidak disukai kakak-kakaknya lantaran perasaan dengki sehingga mereka menjualnya pada musafir dan musafir menjualnya ke Mesir. Di Mesir, Yusuf menjadi tangan kanan raja. Saat masa paceklik hebat melanda Mesir dan kawasan di sekitarnya, Ya’qub dan keluarganya hijrah ke Mesir atas undangan Yusuf dan mereka beranak-pinak di sana.

Setelah sekian generasi tinggal di Mesir, Bani Israil menjadi budak bangsa Qibti. Dipimpin Musa dan Harun dari suku Lewi, Bani Israil keluar dari Mesir untuk menuju Palestina. Namun karena menolak berperang merebut Palestina, Bani Israil hidup mengembara di gurun. Setelah Harun dan Musa wafat, kepemimpinan Bani Israil diserahkan pada Yusya’ (Yosua) dari suku Efraim bin Yusuf dan dia berhasil memimpin Bani Israil menduduki Palestina. Setelahnya, tiap suku Bani Israil berkuasa atas wilayah tertentu di Palestina. Bani Israil membentuk semacam konfederasi longgar pada masa ini, tanpa adanya pemerintahan terpusat. Saat masa-masa sulit, terdapat sosok hakim yang menjadi pemimpin militer. Sejak keluar Mesir, dibuatlah Kemah Suci di bawah arahan Musa sebagai pusat peribadahan Bani Israil yang dapat dipindah-pindahkan.

Baca Juga  Pada masa dinasti tang pernah mencapai puncak kejayaan

Saat ditindas bangsa Filistin, Bani Israil meminta hakim dan nabi mereka saat itu, Samuel, untuk mengangkat seorang raja agar Bani Israil dapat bersatu melawan penindasan. Thalut (Saul) dari suku Benyamin kemudian dinobatkan menjadi raja, memulai awal berdirinya Kerajaan Israel. Thalut digantikan menantunya, Dawud dari suku Yehuda, dan Dawud kemudian digantikan putranya, Sulaiman (Salomo). Pada masa kekuasaan Sulaiman, dibangunlah tempat di Yerusalem yang dijadikan pusat ibadah Bani Israil, yakni Bait Suci (Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis, Beit HaMikdash). Kemah Suci kemungkinan tidak lagi digunakan setelah pembangunan Bait Suci.

Setelah Sulaiman mangkat, Kerajaan Israel terbagi menjadi dua: kerajaan di sisi selatan yang disebut Kerajaan Yehuda dengan Yerusalem sebagai ibu kota dan kerajaan di sisi utara yang disebut Kerajaan Israel dengan Samaria sebagai ibukota. Kerajaan di sisi utara ini juga kerap disebut Kerajaan Utara atau Kerajaan Samaria untuk membedakan dengan Kerajaan Israel yang lama. Kerajaan Samaria dipimpin 19 raja dari 9 dinasti berbeda dalam jangka waktu 208 tahun. Kerajaan Yehuda, terhitung dari Rehabeam bin Sulaiman, dipimpin 19 raja, semuanya merupakan Dinasti Dawud, dan seorang ratu. Penduduk Kerajaan Samaria dan keturunannya disebut bangsa Samaria. Meskipun awalnya hanya digunakan untuk merujuk pada keturunan Yehuda bin Ya’qub, istilah Yahudi kemudian digunakan untuk penduduk Kerajaan Yehuda secara keseluruhan, walaupun yang bersangkutan bukan anggota suku Yehuda.

Kerajaan Samaria hancur pada tahun 720 SM setelah ditaklukan Asyur. Sebagian penduduknya dibawa ke Mesopotamia dan sebagiannya melarikan diri ke Kerajaan Yehuda. Sebagian dari sepuluh suku Bani Israil penduduk Kerajaan Samaria yang ditawan dan diasingkan Asyur kemudian disebut sepuluh suku yang hilang.[30] Selain itu, Asyur juga menempatkan bangsa-bangsa lain ke wilayah bekas Kerajaan Samaria untuk menghancurkan identitas bangsa taklukan.

Pada akhir abad ke-7 SM, Kerajaan Yehuda menjadi negara bawahan Babilonia Baru, kekaisaran yang berpusat di Iraq. Raja Yehuda Zedekia kemudian bersekutu dengan Mesir dan memberontak pada Babilonia. Pemberontakan gagal dan, pada 597 SM, banyak Bani Israil yang diasingkan ke Babilonia. Kerajaan Yehuda memberontak lagi dan Babilonia di bawah kepemimpinan Nebukadnezar II mengepung Yerusalem pada 589 SM. Banyak Bani Israil yang mengungsi ke negara-negara tetangga. Pada 587 atau 586 SM, Kerajaan Yehuda jatuh dan Bait Suci di Yerusalem juga dihancurkan. Keluarga raja, para imam, dan kalangan atas Bani Israil lain diasingkan ke Babilonia. Kawasan Yudea (Yehuda) menjadi provinsi Babilonia.

Babilonia Baru runtuh dan digantikan Kekaisaran Akhemeniyah. Pada 538 SM, Kaisar Akhemeniyah Koresy Agung mengeluarkan surat perintah yang mengizinkan Bani Israil kembali ke Palestina dan membangun Bait Suci kedua. Kawasan bekas Kerajaan Yehuda, dengan luas yang lebih kecil, menjadi negara otonom Yehud Medinata di bawah Akhemeniyah. Setelahnya, kawasan Yudea dikuasai beberapa dinasti asal Yunani secara bergantian. Sekitar 332 SM, kawasan ini ditaklukan Aleksander Agung dan menjadi bagian dari Kekaisaran Makedonia yang berpusat di Yunani. Tahun 301 SM, wilayah Yudea menjadi bagian dari kekuasaan Dinasti Ptolemaik, keluarga bangsawan asal Yunani yang pusat kekuasaannya di Mesir. Tahun 200 SM, Yudea menjadi bagian dari kekuasaan Dinasti Seleukia, keluarga bangsawan asal Yunani yang pusat kekuasaannya di Antiokhia (Turki). Berbeda dengan Akhemeniyah yang cenderung tidak ikut campur urusan internal wilayah bawahannya, dinasti-dinasti Yunani ini mendorong proses Helenisasi besar-besaran di kawasan Yudea dan wilayah bawahannya yang lain, menjadikan kebudayaan Yunani sangat dominan.

Baca Juga  Pada masa dinasti tang pernah mencapai puncak kejayaan

Pada tahun 167-160 SM, terjadi Pemberontakan Makabe yang melawan Kekaisaran Seleukia dan pengaruh Yunani dalam kehidupan umat Yahudi di Palestina. Pemberontakan berhasil dan Dinasti Hashmonayim Yahudi berkuasa atas kawasan Yudea. Awalnya Hashmonayim berperan sebagai pemimpin otonom di bawah Seleukia, tetapi kemudian menjadi pemimpin berdaulat setelah Seleukia terpecah. Tahun 63 SM, Hashmonayim menjadi bawahan Republik Romawi. 37 SM, kekuasaan Hashmonayim berakhir, digantikan Raja Herodes Agung yang merupakan pemimpin bawahan Romawi. Setelah Herodes Agung mangkat, kawasan Yudea dibagi-bagi kepada anak-anaknya. Namun kekuasaan Dinasti Herodes pada akhirnya melebur dan Yudea yang awalnya merupakan wilayah semi-otonom berubah menjadi provinsi Romawi seiring meningkatnya pengaruh Romawi di kawasan timur Mediterania. Awalnya pihak Romawi menghormati adat dan hukum Yahudi setempat, tetapi lama-kelamaan terjadi gesekan antara kedua belah pihak, sehingga terjadilah Perang Yahudi-Romawi Pertama pada tahun 66-73 M. Banyak umat Yahudi yang terbunuh dan dijadikan budak, sementara Bait Suci kembali dihancurkan.

Pada tahun 130 M, Kaisar Hadrianus berencana membangun ulang kota Yerusalem dan melambungkan harapan umat Yahudi. Namun Hadrianus kemudian membangun ulang kota tersebut sebagai koloni Romawi dan menjadi barak Legiuner. Kota baru tersebut, Aelia Capitolina, dibangun dan dipersembahkan untuk dirinya sendiri dan beberapa dewa Romawi, utamanya Yupiter. Hal ini memicu Perang Bar Kokhba (132-135 M). Menurut Cassius Dio, perang tersebut menyebabkan sekitar 580.000 Yahudi terbunuh, 50 kota berbenteng, dan 985 desa diratakan, dan lebih banyak lagi yang mati karena penyakit dan kelaparan. Banyak tawanan perang yang dijual menjadi budak. Umat Yahudi juga dilarang memasuki Yerusalem.

Pada tahun 610, Kekaisaran Sasania Persia mengalahkan Romawi dan merebut Palestina. Umat Yahudi diberi wewenang untuk mendirikan negara bawahan dan mulai membangun Bait Suci. Namun lima tahun kemudian, Romawi kembali mengambil alih Palestina. Umat Kristen menghancurkan Bait Suci yang belum selesai pembangunannya dan menjadikan tempat itu sebagai tempat pembuangan sampah