Latar Belakang Terjadinya Perang Salib

Sejarah Latar Belakang Terjadinya Perang Salib – Setelah pasukan Muslim mengalahkan Bizantium dalam Pertempuran Yarmuk pada tahun 636, Palestina berada di bawah kendali Kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah, dan Fatimiyah. Hubungan politik, perdagangan, dan toleransi antara negara-negara Arab dan Kristen Eropa mengalami pasang surut hingga tahun 1072, ketika Fatimiyah kehilangan kendali atas Palestina dan beralih ke Kekaisaran Seljuk Raya yang berkembang pesat.

Kendati kalifah Fatimiyah Al-Hakim bi-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Kudus, penerusnya mengizinkan Kekaisaran Bizantium untuk membangunnya kembali. Para penguasa Muslim mengizinkan peziarahan oleh umat Katolik ke tempat-tempat suci. Para pemukim Kristen dianggap sebagai dzimmi dan perkawinan campur tidaklah jarang terjadi. Budaya dan keyakinan hidup berdampingan dan saling bersaing, namun kondisi-kondisi daerah perbatasan tidak bersahabat bagi para pedagang dan peziarah Katolik. Gangguan atas peziarahan oleh karena penaklukan bangsa Turk Seljuk memicu dukungan bagi Perang-perang Salib di Eropa Barat.

Ekspansi Kekaisaran Bizantium

Kekaisaran Bizantium melakukan ekspansi wilayah pada awal abad ke-10 melalui Basilius II yang menghabiskan sebagian besar kekuasaannya selama setengah abad dengan melakukan berbagai penaklukan. Meskipun ia mewariskan peningkatan harta benda, ia menelantarkan urusan-urusan domestik dan mengabaikan tugas untuk menggabungkan hasil-hasil penaklukannya ke dalam ekumene Bizantium.

Tak ada satu pun penerus Basilius yang memiliki bakat politik atau militer, dan tugas mengatur Kekaisaran semakin banyak diserahkan kepada pelayanan sipil. Upaya-upaya mereka untuk mengembalikan perekonomian Bizantium ke dalam kemakmuran bahkan memicu inflasi. Untuk menyeimbangkan anggaran yang semakin tidak stabil, tentara tetap Basilius dibubarkan dan tentara thematiknya digantikan dengan tagmata. Setelah kekalahan pasukan Bizantium pada tahun 1071 dalam Pertempuran Manzikert, bangsa Turk Seljuk menguasai hampir keseluruhan Anatolia dan kekaisaran tersebut kerap kali mengalami perang saudara.

Penaklukan kembali Semenanjung Iberia dari kekuasaan kaum Muslim dimulai pada abad ke-8, mencapai titik baliknya dengan direbutnya kembali Toledo pada tahun 1085. Kendati dalam Konsili Clermont tahun 1095. Paus Urbanus II telah memperbandingkan peperangan Iberia dengan Perang Salib Pertama yang dimaklumkannya, namun status perang salib baru diperoleh melalui ensiklik Paus Kallistus II tahun 1123. Setelah ensiklik ini, kepausan tersebut menyatakan perang-perang salib Iberia pada tahun 1147, 1193, 1197, 1210, 1212, 1221, dan 1229.

Hak-hak istimewa Laskar Salib juga diberikan kepada mereka yang membantu ordo-ordo militer utama (Kesatria Templar dan Kesatria Hospitalis) dan ordo-ordo Iberian yang pada akhirnya bergabung dengan kedua ordo utama: Ordo Calatrava dan Ordo Santiago. Dari tahun 1212 hingga 1265 kerajaan-kerajaan Kristen Iberia mendesak kaum Muslim sampai ke Keamiran Granada di ujung selatan semenanjung tersebut. Pada tahun 1492 keamiran ini ditaklukkan, kaum Muslim dan Yahudi dipaksa keluar dari semenanjung tersebut.

Suatu kepausan reformis yang agresif mengalami perselisihan dengan monarki-monarki sekuler Barat dan Kekaisaran Timur, menyebabkan Skisma Timur–Barat dan Kontroversi Penobatan (yang dimulai sekitar tahun 1075 dan berlanjut selama Perang Salib Pertama). Kepausan tersebut mulai menegaskan kemerdekaannya dari para penguasa sekuler dan menyusun alasan-alasan penggunaan kekuatan bersenjata secara tepat oleh kalangan Katolik.

Hasilnya adalah kesalehan yang ketat, suatu minat dalam hal-hal keagamaan, dan propaganda keagamaan yang menganjurkan suatu perang yang benar untuk merebut kembali Palestina dari kaum Muslim. Pandangan mayoritas adalah bahwa umat non-Kristen tidak dapat dipaksa untuk menerima baptisan Kristen atau diserang secara fisik karena memiliki iman yang berbeda, namun ada kaum minoritas yang meyakini bahwa konversi paksa dan pembalasan dapat dibenarkan karena penolakan atas pemerintahan dan iman Kristen. Partisipasi dalam perang seperti demikian dipandang sebagai suatu bentuk penitensi yang mana dapat mengganti kerugian akibat dosa. Di Eropa, bangsa Jerman melakukan ekspansi dengan mengorbankan bangsa Slavia dan Sisilia ditaklukkan oleh seorang petualang Norman bernama Robert Guiscard pada tahun 1072.

Bantuan Militer Perang Salib

Kaisar Alexius I Komnenus meminta bantuan militer (kemungkinan tentara bayaran untuk memperkuat tagmatanya) dari Paus Urbanus II pada Konsili Piacenza tahun 1095 untuk memerangi Seljuks; ia secara berlebihan menceritakan bahaya yang dihadapi Kekaisaran Timur agar dapat memperoleh pasukan yang dibutuhkannya. Pada tanggal 27 November 1095, dalam Konsili Clermont yang dihadiri hampir 300 klerus Prancis, Paus Urbanus mengangkat isu-isu mengenai masalah yang terjadi di Timur dan perjuangan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) melawan kaum Muslim.

Lima sumber utama seputar informasi terkait konsili ini adalah: Gesta Francorum (Perbuatan-perbuatan Bangsa Franka), sebuah karya anonim bertarikh antara tahun 1100–1101; Fulcher dari Chartres, seorang imam yang menghadiri konsili ini; Robert sang Rahib, yang mungkin menghadirinya; Baldric, Uskup Agung Dol, dan Guibert dari Nogent (yang mana tidak menghadirinya). Laporan-laporan tersebut berupa tulisan tinjauan ke belakang yang sangat jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dalam Historia Iherosolimitana karyanya tahun 1106–1107, Robert sang Rahib menuliskan bahwa Paus Urbanus meminta kaum Kristen barat untuk membantu Kekaisaran Bizantium karena “Deus vult” (“Allah menghendakinya”) dan menjanjikan absolusi bagi para pesertanya; menurut sumber-sumber lainnya, paus tersebut menjanjikan suatu indulgensi.

Dalam laporan-laporan itu, Paus Urbanus menekankan untuk merebut kembali Tanah Suci daripada sekadar membantu sang kaisar dan ia mendaftar pelanggaran-pelanggaran mengerikan yang diduga dilakukan oleh kaum Muslim. Perang salib tersebut diserukan di seluruh Prancis; Paus Urbanus menulis kepada mereka “yang menanti di Flandria” bahwa bangsa Turk, selain menghancurkan “gereja-gereja Allah di wilayah-wilayah timur”, telah merebut “Kota Suci Kristus, yang dihiasi oleh sengsara dan kebangkitan-Nya—dan merupakan penghujatan untuk mengatakannya—telah menjualnya dan gereja-gerejanya ke dalam perbudakan keji”. Meskipun sang paus tidak secara eksplisit menyebut penaklukan kembali Yerusalem, ia menyerukan “pembebasan” militer atas Gereja-gereja Timur dan menunjuk Adhemar dari Le Puy untuk memimpin perang salib ini (yang mana dimulai pada tanggal 15 Agustus, pada peringatan Maria Diangkat ke Surga.

× Silahkan Wa CS Kami