Sejarah Forbidden City Istana Kota Terlarang

Sejarah Forbidden City Istana Kota Terlarang China – Setelah Zhu Di (Kaisar Yongle/Yung-le) dari Dinasti Ming naik takhta, dia memindahkan ibu kota dari Nanjing ke Beijing, dan mulai membangun tempat yang nantinya disebut Kota Terlarang pada tahun 1406. Pembangunan ini dilakukan selama 14 tahun dengan mempekerjakan 100.000 seniman ahli dan tenaga jutaan buruh. Bahan yang digunakan meliputi seluruh batang kayu berharga nánmù atau phoebe zhennan yang ditemukan di hutan barat daya Tiongkok, dan balok marmer besar dari tambang dekat Beijing. Lantai-lantai dari aula utama dilapisi dengan “batu bata emas” , batu bata paving yang dipanggang khusus dari Suzhou.

Dari tahun 1420 hingga 1644, Kota Terlarang adalah pusat kekuasaan Dinasti Ming. Pada April 1644, tempat ini diduduki oleh pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Li Zicheng, yang menyatakan dirinya sebagai kaisar dan mendirikan dinastinya sendiri, Shun.  Namun dia segera melarikan diri sebelum pasukan gabungan dari mantan jenderal Ming Wu Sangui dan pasukan Manchu menyerang, membakar bagian Kota Terlarang dalam prosesnya. Pada bulan Oktober, bangsa Manchu telah mencapai kekuasaan atas Tiongkok utara, dan sebuah upacara diadakan di Kota Terlarang untuk memproklamasikan Kaisar Shunzhi/Shunchi muda dari Dinasti Qing sebagai penguasa seluruh Tiongkok.

Para penguasa Qing mengubah nama beberapa bangunan utama di Kota Terlarang, dari yang berkonotasi “kekuasaan” menjadi “harmoni” atau keselarasan, membuat papan nama dua bahasa (Tionghoa dan Manchu) dan memperkenalkan elemen syamanisme di istana.

Saat Perang Candu Kedua (1856–1860), pasukan Anglo-Perancis mengambil alih Kota Terlarang dan mendudukinya sampai akhir pertempuran. Tahun 1900, Ibu Suri Cixi meninggalkan Kota Terlarang pada saat Pemberontakan Boxer, meninggalkannya di tangan pasukan aliansi lawan sampai setahun setelahnya.

Baca Juga  Sejarah Kejayaan Islam Di China

Setelah menjadi kediaman dari 24 kaisar, 14 dari Dinasti Ming dan 10 dari Dinasti Qing, peran Kota Terlarang sebagai pusat pemerintahan Tiongkok berakhir dengan turun takhtanya Puyi (Kaisar Xuantong/Hsuan-tung) pada 1912. Sesuai perjanjian dengan pemerintah Republik Tiongkok yang baru, Puyi tetap berada di Istana Dalam, sedangkan Istana Luar diserahkan untuk penggunaan umum. Puyi diusir dari Kota Terlarang setelah kudeta tahun 1924.

Museum Istana dibentuk di Kota Terlarang pada 1925. Tahun 1933, penyerangan Jepang atas Tiongkok memaksa evakuasi berbagai harta berharga di Kota Terlarang. Sebagian koleksinya dikembalikan setelah Perang Dunia II, tetapi sisanya dievakuasi ke Taiwan pada 1948 oleh Chiang Kai-shek. Koleksi yang terbilang kecil tetapi berkualitas tinggi ini tetap berada dalam ruang penyimpanan sampai tahun 1965 hingga kembali dapat dilihat publik sebagai inti dari Museum Istana Nasional di Taipei.

Setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949, beberapa kerusakan terjadi pada Kota Terlarang karena negara itu tersapu oleh semangat revolusioner. Namun dalam Revolusi Kebudayaan, kerusakan lebih lanjut dicegah oleh Perdana Menteri Zhou Enlai yang mengirim tentara untuk menjaga istana.

Kota Terlarang dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1987 oleh UNESCO sebagai “Istana Kekaisaran Dinasti Ming dan Qing” karena peran besarnya dalam perkembangan arsitektur dan budaya Tiongkok. Saat ini Kota Terlarang dikelola oleh Museum Istana, yang sedang melaksanakan proyek restorasi enam belas tahun untuk memperbaiki dan memulihkan semua bangunan di Kota Terlarang ke keadaan sebelum 1912.

Sekilas Forbodden City

Kota Terlarang , juga disebut “Bekas Istana”  dan “Museum Istana” , merupakan kompleks istana kekaisaran dan kediaman Kaisar Tiongkok beserta anggota rumah tangganya selama periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing, antara tahun 1420 sampai 1924. Tempat ini juga menjadi pusat pemerintahan Tiongkok hampir selama lima abad.

Baca Juga  Sejarah Tujuan Pembangunan Tembok Besar China

Memiliki luas sekitar 720.000 meter persegi, 980 bangunan, dan lebih dari 8.000 ruangan, Kota Terlarang disebut merupakan koleksi terbesar struktur kayu kuno di dunia oleh UNESCO dan terdaftar sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1987 sebagai “Istana Kekaisaran Dinasti Ming dan Qing”. Lokasinya berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen.

Walaupun tidak lagi ditempati oleh kalangan bangsawan, Kota Terlarang tetap merupakan simbol dari kekuasaan Tiongkok. Gambarnya sendiri muncul pada lambang negara Republik Rakyat Tiongkok. Museum Istana sekarang ini merupakan salah satu lokasi yang paling menarik wisatawan di dunia.

Nama “Kota Terlarang” merupakan terjemahan dari Zǐjìn Chéng  yang secara harfiah bermakna “Kota Terlarang Ungu”. Nama Zǐjìn Chéng muncul pertama kali secara resmi pada tahun 1576.

Zǐ atau Ungu, merujuk kepada Bintang Utara yang disebut Bintang Ziwei dalam Tiongkok kuno, dan dipercaya sebagai kediaman surgawi Kaisar Langit dalam astrologi Tiongkok tradisional. Wilayah langit di sekitarnya, Kawasan Ziwei merupakan kediaman Kaisar Langit beserta keluarganya. Kota Terlarang yang merupakan kediaman kaisar bumi dipandang sebagai padanan duniawinya. Jìn atau “terlarang” merujuk pada peraturan yang menyatakan bahwa tidak ada yang boleh masuk atau keluar istana tanpa seizin kaisar. Sekarang situs ini umum dikenal dengan sebutan Gùgōng yang bermakna “Bekas Istana”. Museum yang berdasarkan bangunan-bangunan situs ini disebut “Museum Istana”