Latar Belakang Terjadinya Perang Badar

Sejarah Latar Belakang Terjadinya Perang Badar – Menurut Ensiklopedia yang ditulis Azyumarid Azra Perang Badar  terjadi pada tanggal 7 Ramadhan tahun 2 H. Perang ini terjadi di lembah Badar, 125 km di selatan Maddinah. Perang Badar merupakan puncak pertikaian antara kaum muslim Madinah dan musyrikin Quraisy Mekah. Perang Badar disebabkan oleh tindakan pengusiran dan perampasan harta kaum muslimin yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy. Selain itu kaum Quraisy terus berupaya menghancurkan kaum muslim agar perniagaan dan sesembahan mereka terjamin.

Perang Badar merupakan perang pertama dalam sejarah Islam, dimana pihak lawan berjumlah tiga kali lipat lebih banyak daripada orang-orang muslim. Pasukan Muslim pada waktu itu hanya berjumlah 313 orang, 70 ekor unta, 2 ekor kuda dan 8 pedang. Nabi Muhammad SAW pun harus berbagi unta dengan Abu Lubaba, begitu juga Ali Bin Abi Thalib dan sebagaimana umat muslim yang lainnya. Adapun pihak lawan dalam Perang Badar terdiri atas 1000 pasukan bersenjata lengkap, 700 ekor unta dan 100 ekor kuda.

Perang Badar yang meletus antar kaum muslimin dan orang-orang musyrik dipicu oleh beberapa sebab, di antaranya:

1. Pengusiran Kaum Muslimin dari Kota Makkah Serta Perampasan Harta Benda Mereka

Genderang perang terhadap kaum muslimin sebenarnya sudah ditabuh oleh orang-orang musyrikin sejak Rasulullah saw. mengumandangkan risalah dakwah yang ia bawa. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin dan harta benda mereka di kota Makkah, khususnya terhadap orang-orang Muhajirin. Mereka rampas rumah dan kekayaan kaum Muhajirin. Orang islam pun melarikan diri dan menukarnya dengan keridhoan Allah swt. Kita dapat melihat sendiri bagaimana orang kafir Quraisy merampas dan menguasai harta benda Shuhaib sebagai imbalan diizinkannya ia untuk berhijrah ke Madinah. Kita pun dapat menyaksikan bagaimana mereka menduduki rumah-rumah dan peninggalan kaum muslimin yang ditinggal oleh pemiliknya.

2. Penindasan Terhadap Umat Islam Hingga Kota Madinah

Apa yang dilakukan orang Quraisy terhadap umat Islam ternyata tidak hanya ketika mereka berada di Kota Makkah. Di bahwa pimpinan Kurz bin Habbab Al-Fihri, mereka memprovokasi kaum musyrikin lainnya untuk menyerang, menteror, dan menguasai harta benda milik kaum muslimin yang ada di Kota Madinah (sebagaimana yang terjadi pada Perang Badar Shughra). Oleh karena itu, sudah sewajarnya apabila orang-orang musyrik menerima balasan atas semua permusuhan dan penindasan mereka terhadap umat Islam selama ini. Mereka begitu sadar bahwa banyak kepentingan dan hasil perdagangan mereka yang akan berpindah ke tangan orang-orang Islam di sana, selain bahwa kini Islam telah memiliki pasukan dan wilayah yang mampu memberikan perlawanan atas kewenang-wenangan, menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan meskipun orang-orang yang berhati durjana tidak menyukainya.

3. Memberi Pelajaran Kepada Quraisy dan Mengembalikan Harta Benda Milik Umat Islam

Oleh karena itu, begitu Rasulullah saw. mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dan ‘Amr bin Al-‘Ash bersama 40 orang bergerak dari Syam membawa harta orang-orang Quraisy yang keseluruhannya mencapai seribu ekor unta, maka beliau pun segera mengajak kaum muslimin untuk bergerak mendatanginya. Mendengar seruan Rasulallah, sebagian kaum muslimin menyambutnya sementara yang lainnya merasa sedikit berat dengannya. Mereka menggangap bahwa ketika itu Rasulullah saw. tidak bermaksud mengumandangkan sebuah peperangan. Karena beliau mengatakan, ”Barangsiapa yang saat ini memiliki tunggangan, maka hendaklah ia ikut bersama kami.” Beliau tidak menunggu sahabat yang tunggangannya tidak ada pada saat itu.

× Silahkan Wa CS Kami