Alhambra Bukti Kejayaan Islam di Spanyol

Alhambra Bukti Kejayaan Islam di Spanyol – Alhambra adalah nama sebuah kompleks istana sekaligus benteng yang megah dari kekhalifahan bani ummayyah di Granada, Spanyol bagian selatan (dikenal dengan sebutan Al-Andalus ketika benteng ini didirikan), yang mencakup wilayah perbukitan di batas kota Granada. Istana ini dibangun sebagai tempat tinggal khalifah beserta para pembesarnya.

Di Andalusia yang menjadi andalan wisata Spanyol itu memang bukan hanya ada Alhambra. Ada Cordoba, Sevilla bahkan juga Cardiz –pelabuhan tua tempat para pelaut Arab, Italia bahkan juga Gothik biasa berlabuh di abad-abad silam. Tapi primadona wisata di sana tetap Alhambra.

Alhambra Bukti Kejayaan Islam di Spanyol

Pernah dengar dentingan gitar yang melantunkan “Requerdos de la Alhambra”. Itu permainan gitar klasik dengan petikan yang sangat khusus, setiap dawai dipetik kecil tiga kali dengan sangat cepat. “Petikan itu diilhami oleh keindahan Alhambra pada waktu malam,” kata seorang guru gitar klasik Engkos Perkasa.

Sang penggubah musik itu, di suatu malam di Abad Pertengahan, menatap Alhambra dari sebuah jarak. Kerlap-kerlip lentera dari jendela-jendela Alhambra terus mengusiknya. Sedemikian mempesona suasana itu baginya. Kerlap-kerlip lentera pun ia terjemahkan dalam bentuk petikan khusus pada gitar. Sebuah karya yang mampu mengabadikan suasana Alhambra melintasi waktu dan benua.

Kini, setelah sinar listrik menggantikan lentera pun, Alhambra tetaplah mempesona. Alhambra tetap magnet bagi wisatawan. Khususnya bagi yang menghargai keindahan sejati dan peradaban. Istilah Alhambra tertuju pada sekelompok bangunan lama yang membentuk kota kecil di pebukitan La Sabica, Spanyol Selatan. Nuansa merah bangunan istana, terutama saat tertempa sinar pagi matahari, yang membuat kawasan itu disebut “Alhambra” .

Pada Abad ke-8, beberapa puluh tahun setelah Tarik bin Ziyad dan para muslim Maroko menginjakkan kaki di Andalusia (711 M.), Alhambra mulai dibangun. Mula-mula hanya berupa benteng kecil. Abad demi abad, benteng tersebut dikembangkan hingga abad 11, dan kini bertahan menjadi bagian paling tua Alhambra. Alcazabad. Demikian sebutan kelompok bangunan paling tua ini. Salah satu dari empat blok di kawasan Alhambra.

Baca Juga  Sejarah Kejayaan Islam Di Andalusia Spanyol

Tiga bagian lainnya adalah istana Dinasti Nasrid, komplek taman dan air mancur untuk keluarga istana, serta istana Carlos V. Istana itu dibangun oleh Muhammad Al-Ahmar, pada 1238 yang kemudian dilanjutkan anaknya. Seabad kemudian Alhambra dikembangkan lagi oleh Pangeran Yusuf I dan Muhammad V. Bagian keempat, merupakan satu-satunya bagian Kristen Alhambra, yang dibangun belakangan.

Detil ornamen khas peradaban Islam mewarnai setiap lekuk Alhambra. Torehan simetri bercorak tanaman mengukir dinding-dinding batu cadas. Air jernih mengalir di ‘parit’ kecil di tengah lantai teras, dan berujung ke mulut patung lingkaran Singa di plaza tengah. Tulisan Arab “Laa ghaliba illallah” (tiada kejayaan selain Allah) terpahat di berbagai dinding. Sebuah semboyan yang mengingatkan pasukan yang tengah mabuk kemenangan untuk tidak jumawa.
Luangkan waktu sehari penuh untuk mencerna keindahan demi keindahan itu. Jangan pula lupa menengok dari jendela ke bawah sana, tempat kota Granada terbingkai keindahan alam sekelilingnya. Ya.. di sini, setiap sudut kawasan ini, menawarkan keindahan khas pemandangan tanah Andalusia. Bila sempat, naiklah ke Torre de la Vela dan nikmati sosok Granada, sungai Daro, juga salju di Sierra Nevada.

‘Requerdos de la Alhambra’. Di sini, di Alhambra ini, para arsitek muslim telah mengukir potret diri kejayaan Islam selama delapan abad di tanah Spanyol. Di sini mereka membuat tonggak untuk menyebarkan peradaban yang mencerahkan Eropa yang saat itu masih terlilit zaman kegelapan. Di sini mereka menorehkan inspirasi bagi para terpelajar Nasrani untuk melahirkan ‘Renaissance’ yang memakmurkan dunia seperti sekarang.

Bukan semata keindahan lahiriah yang dapat diberikan Alhambra, namun sentuhan batiniah. Ada kehalusan budi di balik keberadaan kawasan lama ini. Ada pula air mata serta ketidakpedulian manusia.

Baca Juga  Sejarah Berdirinya Daulah Umayyah Andalusia

Alhambra adalah salah satu saksi ketika perjalanan peradaban dipaksa dihentikan. Yakni saat terjadi proses ‘inkuisisi’, saat warga Muslim dan Yahudi Andalusia dikejar-kejar dan dihabisi usai pasangan Raja Ferdinand-Ratu Isabella merebut kekuasaan terakhir Islam pada 1492. Sebuah penaklukan yang mengawali pejajahan Barat terhadap Timur pada separuh terakhir milenium kedua.

Alhambra sempat pula diporakporandakan tentara Napoleon setelah mereka menjadikannya sebagai barak. Keindahan ini sempat pula dikotori oleh para para pencuri dan pengemis yang bertahun-tahun mendudukinya, sekitar dua abad silam. Syukurlah, lebih dari seabad silam, Alhambra difungsikan kembali sebagai monumen peradaban.

‘Requerdos de la Alhambra’. Ada keindahan, sejarah dan kehalusan budi pada bintang Andalusia ini. Ada peradaban yang tak mudah didapatkan di tempat lainnya. Sebuah tempat yang kita layak mengenangnya.

Sumber : Republika